| Emosi yang Tak Stabil Jadi Faktor Seseorang Tega Membunuh Memutilasi |
benget situmorang (36), tersangka pembunuhan dan mutilasi di ciracas jakarta timur tengah jadi sorotan karena tindakan kejinya. apalagi sebelum melakukan pembunuhan, dia sudah melakukan upaya kekerasan terhadap korban. tindakan semacam ini, bisa timbul akibat faktor emosi seseorang yang tidak stabil."kalau melihat dari dinamika psikologinya, pelaku nampaknya memiliki pengelolaan emosinya tidak bagus. itu yang menyebabkan dia menjadi agresif pada orang lain," kata pakar psikologi forensik ugm yusni probowati saat berbincang dengan detikcom, minggu (10/2/2013).yusni menjelaskan bahwa pada kasus mutilasi, bisa saja diawali dengan ketidakstabilan emosi sehingga sering melakukan penyerangan pada orang lain sampai pada tahap melakukan pembunuhan. namun kebanyakan kasus mutilasi karena ingin menghilangkan jejak kejahatan yang dilakukan."kayaknya pelaku ini cenderung memiliki kebiasaan dengan respon marahnya keluar. itu yang menjadi penyebabnya," ujarnya.menurut yusni, besarnya pengaruh kestabilan emosi seseorang dalam berprilaku menggambarkan pentingnya faktor lingkungan dalam pembentukan karakternya."setiap perilaku seseorang, pengaruh yang paling besar memang dari keluarga. setiap orang dibentuk dari rumah. anak itu mengalami berbagai macam gangguan itu kan paling awal dari rumah. itu menjadi potensi menjadi gangguan dalam masyarakat. termasuk dengan yang usia sebaya. bisa saja akhirnya memiliki perilaku yang biasa agresif/emosi dengan agresivitas (penyerangan orang lain)," kata dia.mengenai informasi yang menyebutkan bahwa benget melakukan kejahatan itu karena rasa cemburu pada korban, ia berpendapat itu tidak seutuhnya benar. "rasa cemburu itu hanya faktor pencetus. bisa saja memicu amarah yang selama bisa saja dirasakan pelaku," tutupnya. (fjr/fjr)
sumber: www[dot]detik[dot]com
Post a Comment