| Dari Sampah menjadi Rupiah |
Oleh : Riza Saadiah Mahasiswi Magister Ilmu Lingkungan Universitas Diponegoro Semarang/ Penerima Beasiswa Bappenas RI 2013-2014
PENGOLAHAN sampah yang dilakukan warga Kota Malang bisa dikatakan sangat kreatif. Mindset yang menganggap sampah sebagai barang buangan mulai berubah dengan menjadikan sampah sebagai sumber daya bernilai ekonomis. Wajar jika kreativitas tersebut mengantarkan Kota Malang kembali meraih Adipura Kencana 2014.
Adanya Bank Sampah Malang (BSM) yang mendaur ulang sampah anorganik menjadi 'mesin' pencetak uang berupa tas, dompet, tikar, dan sebagainya. Saat ini BSM memiliki 23.000 nasabah, terdiri dari 346 unit KBM (Kelompok Bersama Masyarakat), 175 sekolah, 32 kantor/instansi, dan 664 nasabah individu. Total sampah anorganik yang dikelola BSM 3 ton per hari beromzet Rp 75 juta - Rp 90 juta per bulan.
Sampah anorganik juga dimanfaatkan SDN Sukun 1 Kota Malang sebagai tabungan rekreasi bagi siswanya. Selain sebagai pembelajaran bagi siswa untuk mengelola sampah, juga dapat meringankan beban orangtua siswa.
Tak hanya itu, hasil penjualan sampah anorganik masyarakat RW 06 Kelurahan Tasikmadu mampu merenovasi mushola 6 x 6 meter menjadi masjid Al-Mustaqim berukuran 14 x 17 meter. Bermula dari ide kreatif Gimin, Ketua RT 03 yang memotivasi masyarakat untuk menyetorkan sampahnya sebagai shodaqoh renovasi masjid. Omzet penjualan sampah mencapai Rp 750 ribu per minggu.
Sampah organik dimanfaatkan untuk kompos, budidaya cacing, dan biogas. Komposting dilakukan di TPS-TPS 3R dan TPA. Sebanyak 1.067 unit tong komposter tersebar di sekolah, perkantoran, permukiman, pasar, dan puskesmas. Sedang budidaya cacing Lumbricus rubellus, dipelopori Bapak Adam.
Cacing ini sebagai bahan industri farmasi, kosmetik, pakan ternak, ikan, atau burung. Kasting atau bekas media dapat digunakan untuk pupuk. Harga jual cacing tersebut antara 30-50 ribu per kilogram. Omzet yang diperoleh dari budidaya cacing adalah 2 ton per hari atau sekitar 60-100 juta per hari. Jumlah yang cukup fantastis dari hasil pengolahan sampah.
Pemanfaatan biogas di TPA Supit Urang sudah digunakan sebagai bahan bakar gas oleh 408 rumah penduduk yang tinggal di sekitar TPA. Hal ini mendukung Protokol Kyoto dan Program Waste To Energy untuk mengurangi emisi gas rumah kaca yang berimplikasi terhadap global warming. Penggunaan biogas sebagai renewable energy dapat mengurangi pemakaian sumber energi fosil yang saat ini jumlahya mulai menipis.
Terkait#bank sampah malang, bsm
Source from: surabaya[dot]tribunews[dot]com
Post a Comment