| Perajin Kerupuk Kediri Kebanjiran Order Lebaran |
, KEDIRI-Momen Lebaran memberikan efek positif bagi sentra perajin kerupuk di Desa Kalirong, Kecamatan Tarokan, Kabupaten Kediri. Para perajin kebanjiran order karena permintaan kerupuk mengalami lonjakan drastis."Permintaan dari toko-toko jajanan dan oleh-oleh memang meningkat saat Lebaran. Toko yang biasanya minta dikirim satu kuintal, minta dikirim stok sampai dua kuintal," ungkap Muhajirin (46) salah satu pemasok kerupuk kepada , Minggu (3/8/2014).Kerupuk terbanyak yang diminta adalah kerupuk goreng pasir. Jajanan ini memang menjadi salah satu makanan oleh-oleh favorit yang banyak dijual di pasar dan toko. Selain harganya relatif murah juga terjangkau semua lapisan masyarakat.Kenaikan permintaan ini semenjak beberapa hari nenjelang Lebaran hingga seminggu pasca-Lebaran. "Ini pesanan juga masih banyak yang belum kami kirim. Masalahnya produksi kami juga masih terbatas," jelasnya.Muhajirin mengaku banyak memasok kerupuk baik yang masih mentah maupun yang sudah digoreng. Pasar yang biasa minta dilayani penjual jajanan dan oleh-oleh di Kota Kediri, Pare, Kertosono, Nganjuk dan beberapa daerah di Jombang.Diakuinya pada hari Lebaran harga satu plastik kerupuk memang mengalami peningkatan dibanding hari biasa. Kenaikannya bervariasi antara Rp 1.000 hingga Rp 1.500 per bungkus.Selain kerupuk goreng pasir, order yang cukup meningkat juga kerupuk lauk. Maklum kerupuk telah menjadi kebutuhan lauk bagi sebagian besar masyarakat di Indonesia. Bagi penggemar kerupuk, akan terasa kurang lengkap saat makan tidak dibarengi dengan menu lauk yang jika dikunyah kriuk-kriuk.Mohammad Joyo (42) salah satu perajin kerupuk di Desa Kalirong, Kecamatan Tarokan merupakan generasi kedua perintis perajin kerupuk. Dia mewarisi usaha ayahnya, Jahuri yang merupakan generasi pertama perintis usaha pembuatan kerupuk di desanya.Di Desa Kalirong ada belasan perajin kerupuk baik skala besar, menengah dan usaha kecil. Usaha yang telah berlangsung turun temurun puluhan tahun itu sampai sekarang masih tetap bertahan dengan berbagai pasang surutnya."Karena masyarakat gemar mengonsumsi kerupuk usaha kami tetap bertahan sampai sekarang. Kalau saat Lebaran ini memang order mengalami peningkatan," tambahnya.Muhammad Joyo mengaku tidak memberi merk kerupuk buatannya. Apalagi kerupuk buatannya dijual lagi oleh pengepul yang bertindak sebagai pemasarnya.Diakuinya usaha kerupuk memang unik, karena saat musim penghujan dia mengaku lerepotan mengeringkan jemuran kerupuknya. Namun uniknya saat musim penghujan produknya malah laku karena banyak dicari masyarakat.Sebaliknya, saat musim kemarau dimana lebih mudah mengeringkan kerupuk, namun biasanya permintaan pasar mengalami penurunan.Mayoritas perajin kerupuk selama ini modalnya berupaya sendiri karena bantuan dari pemerintah masih minim. Termasuk mesin pembuat kerupuk juga hasil desain para perajin sendiri.Harga kerupuk sendiri masih cukup stabil meski bahan bakunya banyak yang mengalami kenaikan. Dari pembuat dia hanya menjual Rp 7.700 per kg. "Sebenarnya keuntungannya sangat tipis, tapi kalau harga kami naikkan kami tak bisa bersaing dengan usaha serupa," tambahnya.Home industri kerupuk di Tarokan selama ini banyak mengandalkan bahan baku utama dari singkong. Limbah dari usaha kerupuk ini juga telah diolah lagi menjadi makanan ternak. Usaha ini telah menyerap ratusan tenaga kerja.
Source from: surabaya[dot]tribunews[dot]com
Post a Comment