![]() |
| Freddy Istanto : Jangan Terlalu Lama Berwacana |
News AnalysisFreddy H IstantoAdvisor Kelompok Pekerja Seni dan Pecinta Sejarah , SURABAYA - Sudah lama saya mendengar ketertarikan Pemkot Surabaya untuk membeli bangunan bekas Penjara Kalisosok. Namun, sudah lama juga saya melihat itu berhenti sebatas pada wacana. Bentuk tindakan kongkret belum juga terlihat. Sampai saat ini, Kalisosok belum juga dikuasai pemkot. Bahkan, kondisi kerusakan bertambah parah.Saya mengikuti perkembangan bekas bangunan Penjara Kalisosok ini sejak lama. Terutama pada 2010, di mana bangunan utama gedung ini diam-diam dibongkar oleh pemiliknya. Pembongkaran ini dimulai dari genting-genting dan kayu rangka.Bangunan menjadi telanjang. Hujan dan terik matahari langsung menghujam ke lantai dan tembok bangunan bersejarah itu. Saya curiga, inilah modus untuk membuat bangunan Kalisosok menjadi cepat lapuk. Cepat rusak dan nantinya sejarah akan hancur bersamanya.Penjara Kalisosok yang kita lihat hari ini adalah buah pembiaran dari pemkot. Betapa tidak, bangunan yang awalnya utuh, dibongkar begitu saja. Padahal, bangunan itu sudah ditetapkan sebagai cagar budaya yang dilindungi. Toh pemkot ternyata diam saja, tidak mengambil tindakan hukum.Aktivitas pembongkaran itu kan melawan UU 5/1995 tentang Banda Cagar Budaya. Pembongkar tidak ditindak itu kan berarti sama dengan pembiaran. Artinya, pemkot pun dalam hal ini juga melanggar aturan dan bisa juga dipidana.Saya perhatikan belakangan ini, pembiaran itu bukan hanya terjadi di bekas Penjara Kalisosok. Ada banyak bangunan cagar budaya yang dirusak dan pemkot membiarkan itu. Contohnya, bekas penjara militer Koblen dan sinagog di Jalan Kayoon. Sinagog itu malah sudah rata menjadi tanah.Pemerintah kota saat ini harusnya lebih berani dalam mengambil langkah hukum. Saya berharap Bu Risma (Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini) bisa berani mengambil tindakan. Perusakan bangunan cagar budaya sudah berlangsung masif sehingga butuh tindakan yang berani.Kalau tidak, kita akan kehilangan banyak sejarah kota untuk anak cucu. Ini kan sangat disayangkan. Yang saya sesalkan sebenarnya bukan sekadar fisik bangunan, melainkan sejarah yang menaungi bangunan itu. Kalau fisik bangunannya dihancurkan, bisa dipastikan sejarahnya akan terkubur bersama. Akan hilang begitu saja.Terakhir saya masuk ke area Penjara Kalisosok pada 2012. Saat itu saya mencanangkan bahwa bangunan ini dalam kondisi kritis. Saya bersama teman-teman pecinta sejarah sempat menempeli tembok depan Kalisosok dengan tulisan bangunan ini dalam bahaya.Tetapi, pagi kami tempel, sorenya tulisan itu sudah dicopot. Bukan hanya itu, saya dan teman-teman tidak boleh lagi masuk ke area Kalisosok. Area itu terlarang. Apalagi setelah terus menerus diekspos media massa. Mungkin pemiliknya gerah juga karena banyak yang peduli dengan nilai sejarah Penjara Kalisosok.Prinsipnya saya mendukung upaya penyelamatan bekas penjara ini. Akan dijadikan apa nantinya, itu bukanlah masalah. Asal bangunan yang termasuk dalam cagar budaya tidak diubah bentuknya. Jadi, penyelamatan Kalisosok juga bisa membawa manfaat bagi warga kota. Baik itu ekonomi, sosial maupun pendidikan. (idl/ben)
Source from: surabaya[dot]tribunews[dot]com

Post a Comment