Home » » Usili Sipil Penjara Kalisosok Bareng Franky Sahilatua

Usili Sipil Penjara Kalisosok Bareng Franky Sahilatua

Written By laso on Friday, 8 August 2014 | 14:30




Usili Sipil Penjara Kalisosok Bareng Franky Sahilatua
Usili Sipil Penjara Kalisosok Bareng Franky Sahilatua






, SURABAYA - Penjara Kalisosok bukan hanya berkesan bagi penghuninya. Masyarakat yang berada di sekitar penjara berusia dua abad itu pun memiliki banyak cerita. Terutama bagi para siswa SMAN 8, sekolah yang letaknya berimpitan dengan tembok penjara.Subodro masih berusia 16 tahun saat masuk SMA Negeri 8 Surabaya. Kala itu sekolah tersebut baru setahun menempati lokasi baru di Jl Kutilang. Lokasi berada persis di belakang Penjara Kalisosok, yang kala itu masih berfungsi. Lokasi itu pula yang kemudian SMAN 8 terkenal dengan sebutan SMA belakang penjara.Bodem, begitu Subodro biasa dipanggil, mengaku bangga bisa diterima di sekolah negeri meskipun sekolah itu lokasinya hanya dipisahkan jalan kecil dengan penjara paling kesohor kala itu. “Waktu  itu tahun 1969. Sudah lama sekali ya. Tapi, saya masih sering ingat kelucuan-kelucuan menggoda sipir-sipir penjara,” tutur Subodro.Mantan bintang Persebaya Surabaya itu mengaku masih seringkali tertawa bila teringat keusilannya pada sipir penjara Kalisosok, semasa SMA-nya dulu. Malah kenakalan dan keusilan pada sipir itu selalu menjadi bahan candaan saat ia dan teman-teman sekolahnya bernostalgia. “Orang tahunya sekolah kami itu dengan istilah belakang penjara,” katanya.Interaksi antara siswa SMAN 8 dengan Penjara Kalisosok, diakui Bodem sangat unik. Setiap pulang dari olahraga, dia dan rekan sekelasnya nyaris tidak pernah melewatkan acara menjahili sipir Penjara Kalisosok. Bagi Bodem muda dan teman-temannya, sipir penjara yang berjaga di menara pengawas merupakan hiburan gratis. Menara itu terletak di atas tembok setinggi 4 meter. ”Kami membayangkan penjaga penjara mirip burung di dalam sangkar. Mereka ada di dalam pos yang letaknya di atas kemudian modar mandir sambil membawa lampu sorot, tapi tidak bisa keluar kemana-mana” ujarnya sembari tertawa.Dari bawah pos, Bodem dan kawan-kawan dengan sepuasnya menggoda dan memainkan. Biasanya lewat di bawah menara sambil bersiul seraya menjentikkan jari. Gerakan mirip memancing burung kicauan itu membuat sipir Kalisosok naik pitam. Namun, bagi Bodem, reaksi para sipir itulah yang dinanti-nanti.”Kalau sudah marah dan teriak-teriak, kami langsung kabur masuk sekolah sambil ketawa-ketiwi,” kata mantan Camat Tegalsari itu. Rombongan siswa yang menggoda sipir tidak main-main. Bisa sampai  40-an siswa. ”Pokoknya yang laki-laki. Kalau yang perempuan tidak berani,” imbuhnya.Pernah ada kejadian heboh. Para siswa laki-laki usai menggoda sipir lari masuk sekolah. Mereka berpikir masalah selesai. Ternyata, masalah berlanjut. Sipir-sipir yang diusili tidak terima. Mereka melapor ke komandan. Tak lama setelah mengikuti pelajaran jam pertama, datang puluhan sipir penjara menggeruduk SMAN 8. Bodem dan kawan-kawannya pun pucat pasi.”Kepala sekolah marah-marah. Tetapi, teman-teman tidak ada yang mau ngaku. Jadinya kami semua yang laki-laki ini di-strap panas-panasan,” katanya lagi. Bodem ingat, kejadian itu bukan hanya sekali. Hampir setiap minggu mereka selalu menggoda sipir Kalisosok.Dia mengenang, satu di antara gengnya adalah almarhum Franky Sahilatua. Penyanyi balada ini juga sama jahilnya dengan teman sebayanya kala itu. Goda-menggoda sipir berlangsung turun temurun. Adik kelas Bodem pun melakukan hal yang sama. ”Mereka mencontoh senior-seniornya,” katanya terkekeh.Selain ngeteki sipir, Bodem juga menggoda kawan-kawannya sendiri. Biasanya, saat sore menjelang, beberapa kawan Bodem yang berani naik ke atap sekolah, menggoda kawannya yang lain kalau mereka melihat ada narapidana perempuan yang sedang mandi.Tentu saja itu hanya cerita bualan Bodem untuk menggoda temannya yang lain. Dia tidak benar-benar melihat ada warga binaan Kalisosok yang mandi. ”Haha tembok Kalisosok tinggi jadi mana bisa melihat. Saya cuma mbujuki anak-anak supaya penasaran,” katanya lantas tertawa.Kenakalan pelajar ’Sekolah Belakang Penjara’ tidak berhenti sampai di situ. Saat kelulusan, tembok Penjara Kalisosok menjadi sasaran corat-coret. Pasalnya, di zaman itu tidak ada tradisi coret-ceret seragam. Tembok penjara akhirnya menjadi pelampiasan.”Kami yang lulus ini corat-coret, yang kerja bakti ngecat adik kelas kita yang baru naik kelas III,”  kenangnya sambil tertawa lagi. Bodem berharap, Penjara Kalisosok terus dilestarikan. Dia menganggap, Kalisosok sebagai satu di antara ikon sejarah Surabaya. (idl)




Source from: surabaya[dot]tribunews[dot]com
Bagikan Berita :

Post a Comment

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Lensa Berita - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger