![]() |
| Penyakit Maut? Ya Stem Cell Obatnya |
, SURABAYA - Era baru, harapan baru. Kalimat itu menjadi gambaran singkat penerapan teknologi baru yang disiapkan RSU Dr Soetomo, Fakultas Kedokteran, dan ITD Universitas Airlangga (UA). Namanya teknologi tranplantasi stem cell.Lewat teknologi ini, para penderita kencing manis dan kanker punya harapan baru untuk sembuh. Begitu juga barisan pasien dengan penyakit penjemput maut lainnya, termasuk serangan jantung dan stroke.Teknologi ini juga menjadi kabar gembira para pecinta tampilan awet muda. Teknologi ini sangat cocok untuk meremajakan kulit. Sel kulit yang mati akan diganti dengan sel kulit baru. Kulit keriput, kusam, dan penuaan kulit, bisa dihilangkan.Sesuai namanya, tranplantasi stem cell merupakan sistem pengobatan dengan memanfaatkan stem cell atau sel induk (sel punca). Sel ini bisa tumbuh dan berkembang menjadi berbagai jenis sel, seperti sel darah, sel tulang, kulit, dan lain-lain. Sel induk itu ditanam atau dicangkokkan dalam tubuh. Sel kemudian tumbuh menggantikan sel-sel rusak yang diinginkan.Stem cell (sel punca) itu diambil dari tali pusar bayi beberapa saat setelah proses kelahiran. Bisa juga dihasilkan dari darah dan jaringan organ tubuh orang dewasa. Sumber sel punca ini kemudian disimpan di bank jaringan yang memiliki teknologi khusus.Di berbagai negara, teknologi ini sudah lama dijalankan. Namun di Tanah Air, baru beberapa tahun belakangan ini gencar diujicobakan. Sejumlah pasien telah diterima. Namun, baru pada 2015 layanan ini diterapkan dengan standar baku. RSU Dr Soetomo, termasuk satu di antara 14 rumah sakit yang ditunjuk pemerintah memberikan layanan sekaligus pembinaan terhadap rumah sakit lain yang menerapkan teknologi stem cell. Penunjukan itu melalui Keputusan Menteri Kesehatan 32/2014.Sutradara muda Iqbal Rais adalah pasien teknologi stem cell yang paling banyak diketahui publik. Ia merupakan pasien kanker pertama yang mendapat pertolongan stem cell di RSU Dr Soetomo. Sayang jiwa sutradara film The Tarix Jabrix, Si Jago Merah, Bukan Malin Kundang , itu tetap tidak terselamatkan. Tapi, itu tidak bisa dijadikan ukuran kegagalan teknologi. Sebab, ketika itu, kanker yang diidap Iqbal sudah kelewat kronis.“Waktu mulai diterapi stem cell, kanker yang diderita almarhum (Iqbal Rais) sudah di stadium akhir. Sebelum diterapi juga sudah menjalani perawatan di mana-mana, sampai ke luar negeri. Yang namanya pengobatan, selain tergantung dokter dan pasien, yang lebih utama adalah kehendak Allah,” ujar Direktur RSU Dr Soetomo, dr Dodo Anondo MPH, Selasa (16/9).Menurut Dodo, sebelum Iqbal Rais, sebenarnya sudah banyak pasien yang mendapatkan pengobatan stemsel cell. Umumnya pasien-pasien penyakit tulang. “Yang sembuh sebenarnya juga cukup banyak, terutama pasien-pasien dengan penyakit tulang,” lanjutnya.Untuk pengembangan penelitian stem cells, RSUD Dr Soetomo saat ini telah didukung dua fasilitas utama, yakni laboratorium stem cells dan Instalasi pusat biomaterial-Bank Jaringan. (idl/ben/day)
Source from: surabaya[dot]tribunews[dot]com

Post a Comment