Berita Terbaru
Showing posts with label .... Show all posts
Showing posts with label .... Show all posts

Dipertanyakan, Apartemen Mewah Djoko Susilo ...

Written By laso on Wednesday, 31 July 2013 | 01:21




Dipertanyakan, Apartemen Mewah Djoko Susilo ...
Dipertanyakan, Apartemen Mewah Djoko Susilo ...





bebi kusmanto, seseorang yang membeli apartemen the peak di sudirman, jakarta, dari inspektur jenderal djoko susilo dihadirkan sebagai saksi meringakan (a de charge) dalam sidang dugaan korupsi simulator sim dan tindak pidana pencucian uang di pengadilan tindak pidana korupsi, jakarta, selasa (30/7/2013).
pada kesempatan itu, bebi mempertanyakan nasib apartemen yang diketahuinya turut disita komisi pemberantasan korupsi (kpk).
"saya bingung soal nasib uang saya karena keluarga pak djoko baru saja memberikan kunci apartemen 1,5 bulan lalu," kata bebi di hadapan majelis hakim maupun jaksa penuntut umum (jpu) dari kpk.
menurut bebi, dia membeli kamar di apartemen tersebut pada 2011 karena ditawari oleh djoko.
bebi mengatakan, saat itu djoko mengaku sedang membutuhkan uang.
"beliau tahun 2011 menawarkan pada saya.
katanya perlu dana," terang bebi.
bebi mengatakan saat itu hanya ingin membantu djoko.
bebi mengaku telah lama mengenal djoko yakni sejak tahun 1992.
dia ditawari djoko harga apartemen rp 6 miliar.
"saya tawar rp 5 miliar.
saya minta ke beliau pembayarannya bertahap, tidak sekaligus," ujarnya.
seperti diketahui, selain didakwa melakukan tindak pidana korupsi, mantan kepala korps lalu lintas polri itu juga didakwa melakukan tindak pidana pencucian uang dengan menyamarkan hartanya yang diduga berasal dari tindak pidana korupsi.
harta kekayaan djoko dianggap tidak sesuai dengan profilnya sebagai kepala korps lalu lintas kepolisian ri.
aset djoko yang dipersoalkan jaksa kpk tak hanya harta perolehan semasa djoko menjabat sebagai kepala korlantas polri pada 15 september 2010 hingga 23 februari 2012.
nilai aset yang dimasukkan dalam dakwaan mencapai lebih dari rp 100 miliar.
selain aset semasa djoko menjadi kepala korlantas, kpk juga memasukkan aset dari masa sebelum dan sesudah djoko memangku jabatan itu.
batas awal aset yang disidik adalah perolehan mulai 2002.
selepas menjadi kepala korlantas polri, djoko menjabat sebagai gubernur akademi kepolisian.













editor : hindra liauw





















ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
dugaan korupsi korlantas polri















berita terkait

ini sebab saksi meringankan djoko susilo tak hadir
hakim tipikor akan lihat simulator di korlantas polri
terbengkalai, saksi minta kpk pinjamkan alat simulator
saksi: legimo palsukan tanda tangan kakorlantas
dua kapolres jadi saksi meringankan untuk djoko susilo
djoko susilo hadirkan 5 saksi meringankan
pengacara djoko susilo bantah intervensi saksi







topik pilihan:



penertiban pkl di jakarta



bilik asmara lapas cipinang



rachel dougall dan lapas kerobokan



banjir bandang di ambon



gebrakan jokowi-basuki



geliat politik jelang 2014











baca juga







basuki minta wali kota tindak pkl seusai lebaran













perempuan dipaksa menikah dan diperkosa sebagai hukuman untuk saudaranya













dapatkan voucher menginap di bali dengan mengirimkan foto gaya ramadhanmu













besudut, anak rimba pertama yang masuk universitas













galaxy s4 meledak, hanguskan seisi apartemen


















































googletag.
display('div-gpt-ad-642297387297694802-2');






























terpopuler + indeks




1
andai tak puasa, jokowi tendang pkl dan satpol pp pasar minggu





2
"anak jenderal" tunjukkan kartu nama jenderal ke petugas "busway"





3
ppp minta mendagri, dprd, dan jokowi "jewer" basuki





4
jokowi kaget lihat ulah pkl dan satpol pp pasar minggu





5
mengaku anak jenderal, pengemudi ini paksa petugas buka portal "busway"























terbaru + indeks





dipertanyakan, apartemen mewah djoko susilo .
.
.










ppp prediksi semua parpol akan berkoalisi









jokowi marah, kepala satpol pp akui anggotanya malas









indonesia tidak pernah punya data pemilih disabilitas









eks menteri jadi anggota komite konvensi demokrat?






















































































[x] close





























news
nasional
regional
megapolitan
internasional



olah raga
sains
edukasi
infografis
surat pembaca



ekonomi
bola
tekno
entertainment
otomotif
health



female
travel
properti
foto
video
forum






kompas gramedia digital group




grazera


kompasiana


kompaskarier.
com



midazz





scoop


urbanesia


gamesaku


makemac

















about us-
advertise-
policy-
pedoman media siber-
career-
contact us-
rss-
site map



©2008 - 2013 pt.
kompas cyber media (kompas gramedia digital group).
all rights reserved.


































!function(d,s,id){var js,fjs=d.
getelementsbytagname(s)[0];if(!d.
getelementbyid(id)){js=d.
createelement(s);js.
id=id;js.
src="https://platform.
twitter.
com/widgets.
js";fjs.
parentnode.
insertbefore(js,fjs);}}(document,"script","twitter-wjs");


window.
___gcfg = {
lang: 'id'
};
(function() {
var po = document.
createelement('script'); po.
type = 'text/javascript'; po.
async = true;
po.
src = 'https://apis.
google.
com/js/plusone.
js';
var s = document.
getelementsbytagname('script')[0]; s.
parentnode.
insertbefore(po, s);
})();




//



$(function() {
var c = true;
$("#mykompas_like").
click(function () {
if (c) {
var n = $(this);
$("#myk-err").
remove();
if (! $("a#myk-ldr").
length) {
n.
parent().
append(' ')
}
c = false;
$.
getjson("http://" + document.
domain + "/services/mykompas/like/?title=" + escape(document.
title.
replace(" - kompas.
com", "")) + "&url=" + location.
href + "&jsoncallback=?", function (p) {
if (p && p.
status == 1) {
n.
parents("div:eq(0)").
html(' berita telah terpilih')
} else {
$("#myk-ldr").
remove();
var o = ' proses gagal, coba kembali';
n.
parent().
append(o)
}
c = true;
$("#myk-ldr").
remove()
})
}
return false;
});
$(".
twitter").
click(function () {
$.
getjson("http://api.
my.
kompas.
com/panel/shareontwitter/?title=" + escape(document.
title.
replace(" - kompas.
com", "")) + "&url=" + location.
href + "&app_id=kompascom&app_key=k01sbbdjweri938x&jsoncallback=?");
});
//$(".
twitter-share-button").
load(function () {
// $(this).
contents().
find(".
btn").
live("click", function () {
// $.
getjson("http://api.
my.
kompas.
com/panel/shareontwitter/?title=" + escape(document.
title.
replace(" - kompas.
com", "")) + "&url=" + location.
href + "&app_id=kompascom&app_key=k01sbbdjweri938x&jsoncallback=?");
// });
//});
fb.
event.
subscribe('edge.
create', function(response) {
console.
log(response);
$.
getjson("http://api.
my.
kompas.
com/panel/shareonfacebook/?title=" + escape(document.
title.
replace(" - kompas.
com", "")) + "&url=" + response + "&app_id=kompascom&app_key=k01sbbdjweri938x&jsoncallback=?");
});
});






jquery(document).
ready(function ($) {
$("#putartbox").
kompasartbox({
siteno : "1",
sectionid : "1",
articleid : "1059137",
nameutm : "nasional",
nameid : "sartbox",
prevpermalink : "2013/07/30/2020262.
xml"
});
$.
ajax({
type:'get',
url:'http://api.
sharedcount.
com/?url=http://nasional.
kompas.
com/read/2013/07/30/2020262/dipertanyakan.
apartemen.
mewah.
djoko.
susilo.
',
datatype:'json',
beforesend: function(){
$(".
social-fb-count").
html('');
$(".
social-twitter-count").
html('');
},
success:function(result){
//console.
log(result.
facebook.
total_count);
if(result != null || result != undefined || result != '')
{
$(".
social-fb-count").
html(result.
facebook.
total_count);
$(".
social-twitter-count").
html(result.
twitter);
}
else
{
$(".
social-fb-count").
html(0);
$(".
social-twitter-count").
html(0);
}
}
});
});





$(function() {
$('a#btnansweroriginal').
live('click', function(){
$.
ajax({
url: 'http://news.
kompas.
com/quiz/answer/',
type: 'post',
data: $('form#quiz_form').
serialize(),
success: function(result) {
$.
fancybox(result.
status);
}
});
return false;
});

$('#btnlogin').
live('click', function(){
var username = $('#username').
val();
var password = $('#password').
val();
$.
ajax({
url: 'http://news.
kompas.
com/quiz/login/',
type: 'post',
data: $('form#login_form').
serialize(),
success: function(result) {
if(result.
status == 1){
window.
location.
href = result.
output;
}else{
$.
fancybox(result.
output);
}
}
});
return false;
});

$("a#status_quiz").
fancybox({
"width" : '0',
"height" : '0',
"autoscale" : false,
"transitionin" : "none",
// "transitionout" : "none"
});
if(($("#tabbing_tabs").
length > 0)) {
var countries=new ddtabcontent("tabbing_tabs");
countries.
setpersist(true);
countries.
setselectedclasstarget("link");
countries.
init();
}
});




/* s: cookies */
var cookies = {
init: function () {
var allcookies = document.
cookie.
split('; ');
for (var i=0;i= start_time.
gettime() && mydate.
gettime() = start_time.
gettime() && mydate.
gettime() = start_time.
gettime() && mydate.
gettime() = start_time.
gettime() && mydate.
gettime() = start_time.
gettime() && mydate.
gettime() = start_time.
gettime() && mydate.
gettime()



$(function() {
$("a.
fn_register").
fancybox ({
'width' : 700
, 'height' : 550
, 'autoscale' : true
, 'transitionin' : 'over'
, 'transitionout' : 'over'
, 'type' : 'iframe'
, 'titleshow' : false
, 'shownavarrows' : false
});
$('a.
fn_login').
fancybox({
'autoscale': true
, 'transitionin': 'over'
, 'transitionout': 'over'
, 'type': 'iframe'
, 'width': 330
, 'height': 300
, 'titleshow' : false
, 'shownavarrows' : false
});
});








var _gaq = _gaq || [];
_gaq.
push(['a.
_setaccount', 'ua-3374285-20']);
_gaq.
push(['a.
_trackpageview']);
_gaq.
push(['a.
_trackpageloadtime']);
_gaq.
push(['b.
_setaccount', 'ua-3374285-1']);
_gaq.
push(['b.
_trackpageview']);
_gaq.
push(['b.
_trackpageloadtime']);
_gaq.
push(['d.
_setaccount', 'ua-9341640-16']);
_gaq.
push(['d.
_setdomainname', 'auto']);
_gaq.
push(['d.
_setallowlinker', true]);
_gaq.
push(['d.
_trackpageview']);
_gaq.
push(['d.
_trackpageloadtime']);


_gaq.
push(['c.
_setaccount', 'ua-3374285-5']);
_gaq.
push(['c.
_trackpageview']);
_gaq.
push(['c.
_trackpageloadtime']);


(function() {
var ga = document.
createelement('script'); ga.
type = 'text/javascript'; ga.
async = true;
ga.
src = ('https:' == document.
location.
protocol ? 'https://ssl' : 'http://www') + '.
google-analytics.
com/ga.
js';
var s = document.
getelementsbytagname('script')[0]; s.
parentnode.
insertbefore(ga, s);
})();






var _comscore = _comscore || [];
_comscore.
push({ c1: "2", c2: "8077308" });
(function() {
var s = document.
createelement("script"), el = document.
getelementsbytagname("script")[0]; s.
async = true;
s.
src = (document.
location.
protocol == "https:" ? "https://sb" : "http://b") + ".
scorecardresearch.
com/beacon.
js";
el.
parentnode.
insertbefore(s, el);
})();









//-1?'https://id-ssl':'http://id-cdn')
+unescape('.
effectivemeasure.
net/em.
js%22%3e%3c/script%3e'));
})();
//]]>








_atrk_opts = { atrk_acct:"ua8se1agtn00wa", domain:"kompas.
com",dynamic: true};
(function() { var as = document.
createelement('script'); as.
type = 'text/javascript'; as.
async = true; as.
src = " https://d31qbv1cthcecs.
cloudfront.
net/atrk.
js"; var s = document.
getelementsbytagname('script')[0];s.
parentnode.
insertbefore(as, s); })();










//









sumber: www[dot]kompas[dot]com

Blusukan ...

Written By laso on Friday, 4 January 2013 | 18:04




Blusukan ...
Blusukan ...





seperti ditulis judul utama harian ini edisi 2 januari 2013, masyarakat puas dengan ”malam tanpa kendaraan” di sepanjang jalan mh thamrin dan jalan sudirman. rasa puas ini layak dijaga kesinambungannya bagi kita warga jakarta yang sudah lama rindu kebersamaan. sudah pasti acara yang lebih layak disebut sebagai ”pesta rakyat” itu dinobatkan jadi acara tahunan. selain itu, acara serupa, misalnya ”malam muda- mudi”, yang digelar dalam rangka hari ulang tahun jakarta setiap juni, juga akan menjadi pesta rakyat. puluhan tahun lalu kita merasakan kebersamaan itu setiap malam menjelang hari-hari besar. jakarta ramai tidak hanya pada malam tahun baru, tetapi juga malam takbiran idul fitri, malam takbiran idul adha, dan malam muda-mudi. malam-malam itu meriah karena pada paruh kedua tahun 1960-an jakarta dilanda euforia berakhirnya orde lama. oleh sebab itu, malam-malam pesta itu kadang kala diwarnai ”kebebasan” seperti perkelahian antargeng atau kebut-kebutan. apa pun, bang ali sadikin selaku gubernur pandai mengemas acara-acara di luar ruang. salah satunya, anak-anak muda berjalan atau bermobil lalu-lalang di sepanjang thamrin-sudirman dengan kostum dan tata wajah warna-warni serta unik. panggung bertebaran di mana-mana dan sebagian menyuguhkan band-band lokal top, seperti koes plus atau panbers. jumlah mobil yang terbilang sedikit saat itu tidak memerlukan pemberlakuan ”tanpa kendaraan” seperti sekarang.  namun, tradisi pesta seperti yang dilakukan di kota-kota besar lain di dunia itu terhenti setelah bang ali tak lagi menjadi gubernur dki tahun 1977. popularitas bang ali yang meroket menimbulkan rasa cemburu elite penguasa saat itu. kini terbuka lagi peluang untuk merekatkan kembali persaudaraan antarwarga ibu kota berkat pesta rakyat 31 desember lalu. jakarta memerlukan emotional and physical gathering tanpa memandang kelas, kelamin, kulit, atau usia warga. banyak pelajaran dapat dipetik dari ”pesta rakyat” sejak sore 31 desember 2012 sampai dini hari 1 januari 2013. kedatangan dan kepergian ribuan massa yang lalu-lalang dalam beberapa jam di wilayah tertentu adalah peristiwa tak main-main. entah berapa ribu orang yang tumplak di thamrin-sudirman. namun, bagi wartawan yang terbiasa meliput pertandingan sepak bola, jumlah itu mencapai hitungan ”puluhan ribu”. terasa sekali kurangnya kehadiran aparat keamanan, terutama di tengah-tengah kerumunan yang kelewat berbahaya sampai sukar menggerakkan badan dan menyesakkan napas. aparat keamanan kita mungkin masih awam dalam soal pengendalian massa berskala raksasa yang penuh ancaman. sebaiknya aparat keamanan lebih konsentrasi ke pengaturan lalu lintas manusia, baik yang menetap di tempat tertentu maupun yang lalu-lalang. di beberapa titik terjadi kemacetan manusia yang cukup menyeramkan dan membahayakan nyawa. bisa dibayangkan, apa yang terjadi andaikan tiba-tiba muncul rasa panik di kerumunan padat tersebut? tak urung banyak korban yang mungkin jatuh terinjak-injak lautan manusia. ngeri menyaksikan mereka yang berteduh di jembatan-jembatan penyeberangan ataupun halte-halte bus transjakarta. pertanyaannya, seberapa kuatkah struktur jembatan dan halte untuk menahan beban berat manusia yang amat berjubel? jangankan ”rak sepeda” (semacam pagar besi) yang memagari dan mengatur alur massa, patroli pun nyaris tak terlihat. akhirnya yang terjadi bisa ditebak: sebagian massa bertindak ”semau gue”. saking padatnya area di sekitar bundaran hotel indonesia, anda mustahil menembus kerumunan ke jalan-jalan di sekitar itu, seperti jalan sutan syahrir. sebaiknya bundaran hi itu (bibir bundar kolam air mancur) harus bersih dari manusia. sebab, di situlah sentra kegiatan yang menjadi klimaks dari rentetan acara sejak karnaval sore sampai pesta kembang api. andai area itu bersih, semua pengunjung merasa aman dan nyaman menyaksikan pesta kembang api. pengelolaan panggung (semuanya ada 16 panggung) juga kurang memadai. di beberapa titik ada panggung yang berhadapan sehingga membuat kerumunan tidak terkontrol dan taman median jalan pun rusak parah terinjak kaki. sejak petang terlihat juga kekeliruan penutupan jalan yang cuma berlaku di thamrin-sudirman. mungkin pada masa mendatang perlu juga penutupan diperluas ke jalan-jalan di sekitar thamrin-sudirman. saya pernah meliput pelantikan presiden amerika serikat barack obama di halaman kongres, washington dc, tahun 2009. pelantikan disesaki sekitar 1,1 juta manusia dan dikawal ”hanya” 10.000 polisi plus ribuan rak sepeda yang bekerja efektif. kunci sukses acara, jalan-jalan dalam radius 3-5 kilometer sekeliling tempat acara ditutup dari kendaraan sejak subuh sampai malam. itu pun sempat ada insiden, massa nyaris terinjak-injak di sebuah terowongan karena mendadak panik. sistem pengamanan wajib tentu perlu kajian serius dan berkali-kali untuk menghindari jatuhnya korban pada masa mendatang. manajemen panggung pasti akan jauh lebih baik jika pesta rakyat ini melibatkan lebih banyak kalangan profesional. puas rasanya berada di antara warga jakarta dan juga dari luar kota untuk melepas tahun yang lama sekaligus menyambut tahun yang baru. terharu rasanya melihat antusiasme warga, misalnya keluarga-keluarga yang bertenda di trotoar. setiap warga kota besar/ibu kota perlu gairah dan salah satu kanal menambah kegairahan itu berkumpul menikmati pesta rakyat, mulai dari karnaval sampai atraksi kembang api. pesta rakyat yang lalu bukan sekadar sukses gubernur atau kepala polda, melainkan juga sukses kita warga ibu kota. justru karena ini sukses bersama, sia-sia rasanya menganggap ”fenomena jokowi” sebagai pengulangan bang ali. terima saja faktanya: kepemimpinan mereka memang populer. kita warga jakarta jangan mau kalah sama bang jo. kalau dia sering blusukan, kita juga perlu blusukan ke thamrin-sudirman pada saat pesta- pesta rakyat mendatang.  






sumber :
sumber: www.kompas.com

Ketika Para Jaksa Percaya Dukun ...

Written By laso on Thursday, 3 January 2013 | 19:41




Ketika Para Jaksa Percaya Dukun ...
Ketika Para Jaksa Percaya Dukun ...





pengadilan tindak pidana korupsi jakarta, rabu (2/1/2013), ger-geran (penuh tawa dan canda) ketika mendengarkan keterangan para saksi yang hadir dalam sidang pemerasan yang melibatkan para jaksa dengan terdakwa dede prihantono. dede, menurut jaksa penuntut umum, adalah mantan pengacara yang saat menjalankan aksinya dikenal sebagai jaksa gadungan yang mencoba memeras budi ashari, direktur pt budi indah mulia mandiri, sebesar rp 2,5 miliar. saksi-saksi yang dihadirkan ternyata bukan saksi biasa. mereka berasal dari kejaksaan, yaitu jaksa andri fernando pasaribu (jaksa fungsional pada jaksa agung muda perdata dan tata usaha negara kejagung), jaksa arief budi haryanto (jaksa fungsional di direktorat tata usaha negara), serta sutarna (staf tata usaha pada subdirektorat pelayanan hukum direktorat pph di kejagung bidang perdata dan tata usaha negara). ketiga saksi juga menjadi terdakwa dalam kasus yang sama. pada 25 september 2012, para terdakwa bertemu membicarakan rencana yang akan dilakukan agar budi memberikan sejumlah uang. untuk menakut-nakuti budi yang jadi target pemerasan, ketiganya kemudian membuat surat panggilan untuk budi. informasi dari dukun
sumber: www.kompas.com
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Lensa Berita - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger