, SURABAYA - Prof Moch Thaha Sp.PD-KGH, FINASIM, FACP, FASN akan dikukuhkan sebagai guru besar ke-428 Universitas Airlangga, Sabtu (20/9/2014). Pengukuhan ini terasa istimewa karena guru besar itu dicapai di usia cukup muda, 42 tahun serta dihadiri kedua orangtuanya yang juga guru besar Fakultas Kedokteran Unair, Prof Sayid Hood Alsagaff, Sp.P(K) dan Prof Juliati Hood A., Sp.PA(K) FIAC). Inilah peristiwa pertama sepanjang sejarah Unair.Mochammad Thoha hanya tersenyum saat Sekretaris Pusat Informasi dan Humas (PIH) Unair, Aris Armuninggar memperkenalkan sebagai guru besar termuda di Fakultas Kedokteran Unair dan termuda kedua di Unair.Pria kelahiran 8 Mei 1972 ini bahkan meminta hal itu tidak dibesar-besarkan. Rupanya dia tidak ingin dikatakan sombong atas publikasinya."Di sini bukan termuda yang penting, tetapi ini amanah yang harus saya emban. Dan itu berarti masa mengabdi saya akan lebih panjang,"katanya saat ditemui di Media Centre, Rektorat Unair, Kamis (18/9/2014).Menurutnya, apa yang dicapainya itu menunjukkan bahwa Unair telah memberikan kesempatan penuh kepada kaum muda untuk mengembangkan ilmunya."Saya yakin setelah ini akan banyak guru besar muda-muda yang akan muncul," katanya merendah.Dia sendiri merasa apa yang dicapainya saat ini tidak terlepas dari peran keluarga, orangtua, dan mahasiswanya.Dari orangtuanya dia mengenal tentang dunia kedokteran. Pasangan guru besar ini juga yang mengilhaminya untuk menjadi dokter.Diceritakan, saat masih kecil, dia kerap diajak kunjungan pasien oleh orangtuanya dan kakeknya yang juga seorang dokter. Dari situ empatinya untuk menolong sesama muncul."Mereka adalah panutan saya. Doa, suport dan contoh orangtua telah memprakarsai saya untuk menjadi dokter,"kata Dosen Berprestasi Unair tahun 2011.Dia sadar, untuk menjadi seperti orangtuanya tidak bisa dicapai dengan santai. Karena itu ketika lulus SMAN 5 Surabaya pada 1991 dia termotivasi masuk ke Fakultas Kedokteran Unair melalui jalur UMPTN (sekarang bernama SBMPTN).Hanya butuh waktu sekitar enam tahun bagi Thaha untuk meraih gelar dokter umum."Bukan berarti saya berlari. Saya tetap berjalan seperti mahasiswa biasa yang memiliki kegiatan organisasi dan olahraga," kata alumnus program doktoral di Juntendo University, Tokyo.Laiknya mahasiswa kebanyakan Thaha juga pernah merasakan mendapat nilai kurang sehingga harus diulanginya di semester pendek. Dan konsekuensinya, dia harus rela waktu liburnya tersita untuk kuliah lagi.Setelah meraih gelar dokter umum tahun 1997, peraih Young Investigator Award 2008 ini langsung melanjutkan program spesialis ilmu penyakit dalam.Alasan memilih spesialisasi ini karena dia melihat ilmu penyakit dalam adalah ilmu tertua yang menjadi dasar ilmu kedokteran.Spesialisasi ini berbeda dengan kedua orangtuanya yang seorang dokter spesialis paru-paru (bapak) dan spesialis patologi anatomi (ibu)."Memang selama ini orangtua tidak pernah mengintervensi pilihan saya maupun saudara saya meski semuanya (lima orang) dokter. Buktinya adik saya awalnya masuk teknik dibiarkan meski akhirnya juga kembali ke kedokteran,"kata dokter yang telah membubuhkan 18 publikasi ilmiah internasional.Dengan gelar profesor ini Thaha merasa memiliki kewajiban moral kepada institusi (unair) maupun masyarakat, terutama untuk melaksanakan tridharma perguruan tinggi.Dan salah satu konsekuensinya tentu saja jam mengajarnya akan semakin padat.Dia pun siap menjalani konsekuensi itu tentu dengan rutinitas padat yang sudah dilakoninya bertahun-tahun.Satu kebiasaan yang sampai saat ini masih dilakukan adalah bangun sebelum subuh dan membersihkan diri. Setelah salat Subuh langsung keluar untuk kunjungan ke beberapa rumah sakit.Setelah itu menuju ke kampus. Biasanya pukul 06.30 WIB dia sudah tiba di kampus. Karena masih pagi, biasanya dia sempatkan tidur sejenak di kursinya sambil menungggu waktu mengajar."Itu kebiasaan yang diajarkan kakek dan ayah saya. Ternyata kebiasaan itu sangat membantu saya karena tidak ada tugas yang terlewatkan,"katanya.Bagi keluarganya, kebiasaan keluar rumah dini hari awalnya cukup berat diterima. Lama kelamaan kebiasaan itu malah menular ke anak-anaknya."Mereka terbiasa bangun pagi. Tugas PR dan sebagainya," kata Thaha yang selalu menyempatkan waktunya untuk anak-anaknya.Satu kebiasaan lagi yang layak ditiru adalah cara merencanakan waktu. Biasanya di awal minggu dia sudah menyusun perencanaan seminggu ke depan.Di akhir minggu dia melihat kembali apa saja yang telah dicapai dan apa yang belum dicapai.Dari situ dia bisa mengevaluasinya. "Untuk keluarga diselipkan di antaranya,"katanya sambil tersenyum.Pengukuhan guru besar Thaha akan digelar di Aula Garuda Mukti Gedung Manajemen Unair di kampus C Jl Mulyorejo Surabaya. Selain Prof Thaha juga dikukuhkan Prof Budi Santoso, SpOG(K), Guru Besar bidang Kesehatan Reproduksi.Prof Thaha akan menyampaikan orasi berjudul "Peran faktor Risiko Kardiovaskuler Non-Tradisional dalam Patogenesis dan Progresifitas Penyakit Ginjal Kronik".
Penulis: Musahadah
Editor: Parmin
Tweet
Source from: surabaya[dot]tribunews[dot]com
Post a Comment